Monday, 30 December 2013

PURBASORA PEJAH


Santana Dan Garuda Bulu Emas Bab 11

PURBASORA PEJAH

Sekarang kita ikuti pertarungan antara Sanjaya dan Purbasora yang kejadiannya bersamaan dengan pertarungan Santana dan ayahnya.
Tampaknya Purbasora langsung mengerahkan seluruh kekuatannya. Bagaimana tidak, dia ingin mempertahankan kekuasaannya. Namun dalam hatinya tetap was-was karena diluar istana suara gemuruh semakin santar terdengar. Pikirannya agak terpecah.
Sebelumnya dia memang sudah memerintahkan agar semua prajurit bersiap siaga untuk menghadapi serangan pasukan Sunda yang kabarnya akan segera tiba, dan mungkin juga akan menyerang sacara dadakan. Dan dugaannya benar kini perang itu telah terjadi. Dia tidak tahu apakah prajuritnya bisa bertahan atau tidak.

DI BALIK TOPENG MERAH


Santana Dan Garuda Bulu Emas Bab 10

DI BALIK TOPENG MERAH

Santana sangat terkejut sekali begitu melihat wajah asli dari Iblis Merah Hutan Mandapa. Karena dia begitu kenal sekali dengan wajah ini. Sementara Pubasora dan Iblis Merah Hutan Mandapa dibuat terpana dengan gerakan Santana yang tak terlihat itu. Sesaat Santana menjadi gugup, hal ini dilihat oleh Sanjaya lantas dia bertanya pelan.
“Kenapa kau, Santana?”
“Ternyata kata-kata aki resi berlaku juga padaku,” Jawab Santana, namun Sanjaya masih belum mengerti maksudnya.
“Yang mana?” Tanya Sanjaya lagi.
Tegakkanlah kebenaran walau harus menghadapi keluarga sendiri.” Jawab Santana. Rupanya benar apa yang dikatakan resi Wanayasa bahwa dia tidak perlu mencari ayahnya dan suatu saat nanti juga pasti akan bertemu dengan ayahnya. Ternyata pada saat seperti ini dia bertemu. Lebih terkejutnya ternyata ayahnya ikut menjadi pemberontak bersama Purbasora. Akhirnya dia menduga-duga, saat melarikan diri dari hukuman ayahnya mungkin pergi ke hutan Mandapa kemudian berguru Birawayaksa dan selanjutnya membantu pemberontakan Purbasora menggulingkan ayahnya  Sanjaya.

PENYERBUAN KE GALUH


Santana Dan Garuda Bulu Emas Bab 9

PENYERBUAN KE GALUH

Sungai Citarum, sungai besar dan berair jernih yang menjadi perbatasan antara Galuh dan Sunda. Siang hari yang terik ini tampak beberapa kapal besar yang mengangkut sekitar tiga ratus prajurit dari kerajaan Sunda tengah menepi kepinggiran sungai.
Sanjaya, adalah orang yang menjadi pimpinan rombongan pasukan ini. Dia berada di kapal yang paling depan yang telah lebih dulu menepi, dia beserta prajurit yang mendampinginya sudah berada di daratan. Sementara kapal-kapal yang lain pun mengikuti. Seperti biasa rambutnya selalu digelung keatas, kali ini dia berpakaian sedikit resmi, yaitu sebuah pakaian untuk berperang.